Sabtu, 26 Februari 2011

LINGKUNGAN MEMPENGARUHI PERILAKU

  Konformitas : Pengaruh kelompok di lingkungan

  Apakah anda pernah menyadari bahwa diri anda sedang berada pada situasi dimana anda merasa bahwa anda tampil mencolok diantara yang lainnya seperti kiasan "ibu jari yang bengkak" ? jika demikian, anda telah memiliki pengalaman langsung mengenai tekanan terhadap konformitas. Konformitas berakar dari kenyataan bahwa di berbagai konteks ada aturan-aturan eksplisit ataupun tak terucap yang mengindikasikan bagaimana kita seharusnya atau sebaiknya bertingkah laku. Aturan-aturan ini dikenal sebagai norma sosial ( social morms), dan aturan-aturan ini sering kali menimbulkan efek yang kuat pada tingkah laku kita.

  Kecenderungan yang kuat terhadap konformitas ini untuk mengikuti harapan masyarakat atau kelompok mengenai bagaimana seharusnya kita bertindak diberbagai situasi, kemungkinan akan muncul dihadapan anda sebagai suatu hal yang tidak dapat disetujui. Konformitas membatasi kebebasan pribadi. Namun, sebenarnya, ada dasar yang kuat berkenaan dengan konformitas:tanpa konformitas kita, akan segera menyadari diri kita berhadapan dengan kekacauan sosial.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas : variabel-variabel yang menentukan sejauh mana kita "ikut serta"

faktor-faktor yang paling penting dalam hal konformitas:

  • kohesivitas dan konformitas : menerima pengaruh dari orang - orang yang kita sukai
  • konformitas dan ukuran kelompok : mengapa yang lebih banyak adalah yang lebih baik jika dikaitkan dengan tekanan sosial
  • norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif : saat norma mempengaruhi atau tidak mempengaruhi tingkah laku
  • pengaruh sosial normatif : keinginan untuk disukai dan rasa takut akan penolakan
  • keinginan untuk merasa benar : pengaruh sosial informasional
  • membenarkan konformitas : konsekuensi kognitif dari mengikuti kelompok.

CONTOH KONFORMITAS

  Pada banyak kasus perokok dikalangan remaja itu dikarenakan lingkungan mereka dan ajakan-ajakan dari teman sebaya mereka. Misalnya si "A" awalnya tidak merokok dan teman-teman si "A" ini merupakan perokok semua. Pada suatu saat si "A" pulang sekolah dan ia sedang mengalami kepenatan pikirannya, sewaktu pulang ia dipanggil oleh teman-temannya untuk nongkrong dulu dan bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Awalnya si " A" tidak mau karena ia tau bahwa teman-temannya pada merokok semua, tapi karena sedang mengalami kepenatan si "A" mau bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Saat sedang berkumpul dengan teman-teman tersebut ia ditawarkan untuk merokok, kata temannya rokok bisa membuat pikiran tenang bila pikirannya sedang penat. Awalnya ia menolak, tapi karena terus didesak dan didalam dirinya ia ingin membuktikan perkataan temannya tadi akhirnya si "A" mencoba merokok dan menjadi kecanduan hingga akhirnya ia menjadi perokok aktif.

sumber : buku psikologi sosial 2, Robert A. Baron, Donn Byrne

Tidak ada komentar:

Posting Komentar